Kebijakan Antideforestasi APRIL Indonesia Diapresiasi Berbagai Pihak

Source: Inside RGE

Risky Agung – Perlindungan terhadap kelestarian hutan sudah menjadi komitmen APRIL Indonesia. Produsen pulp and paper terkemuka ini telah menjalankan kebijakan antideforestasi sejak 2015. Langkah itu menuai apresiasi dari berbagai pihak.

Dengan basis utama di Pangkalan Kerinci yang ada di Provinsi Riau, APRIL Paper dikenal sebagai produsen pulp and paper ternama. Mereka mampu menembus kapasitas produksi yang tinggi. Padahal, APRIL tidak pernah mendapatkan bahan baku berupa kayu dari hutan alam.

Tengok saja kapasitas produksinya per tahun. Untuk pulp, APRIL Asia sanggup membuat hingga 2,8 juta ton, sedangkan produksi kertas menembus 850 ribu ton.

Namun, untuk mencapai kapasitas produksi tersebut tidak mudah. APRIL Indonesia mesti berjuang keras terlebih dulu. Apalagi mereka memang sudah berkomitmen untuk menjaga rantai pasokannya dari kayu yang berasal dari hutan alam.

Tekad tersebut dicanangkan oleh APRIL Paper sejak 2015. Hal itu ditandai dengan pencanangan Sustainable Forest Management Policy (SFMP) 2.0 pada 15 Mei 2015. Sejak saat itu, APRIL sudah resmi memastikan semua bahan baku yang digunakan bebas dari rantai deforestasi.

“Ini langkah besar dalam 15 tahun petualangan kelestarian kami. SFMP ini benar-benar tentang bagaimana konservasi diterapkan saat ini, bukan sekadar janji di masa mendatang. Kami menerapkan bebas deforestasi, konservasi, memberi manfaat secara sosial dan ekonomi bagi Indonesia, serta masa depan yang lebih lestari bagi perusahaan dan pelanggan kami,” kata Presiden APRIL, Praveen Singhavi di Bisnis.com pada Mei 2015.

 Bersamaan dengan deklarasi komitmen antideforestasi tersebut, APRIL Indonesia juga melakukan sejumlah langkah perlindungan alam lain. Mereka berkomitmen untuk tidak membuka atau mengeringkan lahan gambut yang masih memiliki hutan. Selain itu, APRIL juga berkomitmen melindungi wilayah yang mempunyai nilai karbon tinggi (high carbon stock) dengan mengacu pada standar HCS Approach Steering Group.

Komitmen ini pada awalnya membuat proses produksi APRIL Paper sedikit terganggu. Sebab, mereka harus menunggu pasokan bahan baku terlebih dulu dari hutan tanaman industri yang didirikan. Akibatnya ada sedikit penurunan dalam kapasitas produksi pada awal penerapan SFMP 2.0.

Penurunan terjadi karena belum semua tanaman di hutan tanaman industri milik APRIL Paper sudah bisa dipanen. Meski begitu, APRIL tetap bersabar sembari menunggu semua pohon akasia dan eukaliptus yang ditanam di perkebunannya siap dipanen.

Kegigihan ini membuat APRIL Asia mendapat apresiasi dari berbagai pihak. Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan (LHK) Siti Nurbaya melalui Dirjen Pengelolaan Hutan Produksi Lestari IB Putera Parthama memandang komitmen APRIL untuk menghapus praktik deforestasi dari rantai pasoknya melalui kebijakan pengelolaan hutan lestari sebagai sisi cemerlang dari sistem pengelolaan hutan di Indonesia.

Ia menandaskan bahwa langkah tersebut sejalan dengan target pemerintah untuk mewujudkan pengelolaan hutan yang berkelanjutan. “Satu hal yang penting lagi semuanya dilakukan dengan bekerja sama secara mutualistik dan bersinergi,” kata Putera di Berita Satu.

Apresiasi lain datang dari Ketua Komisi II Dewan Kehutanan Nasional (DKN) Ir. Imam Harmen MBA. Ia menyatakan keberhasilan menjalankan pengelolaan hutan lestari yang diakui secara global membuktikan bahwa APRIL Paper memiliki komitmen yang kuat terhadap terhadap pengelolaan hutan yang berkelanjutan dan bertanggung jawab. Namun, Imam tidak heran karena tahu persis bahwa APRIL sudah lama mengimplementasikan praktik pengelolaan hutan secara berkelanjutan.

“Mereka menyadari bahwa investasi industri pulp dan kertas sangat besar dan harus dikelola dalam jangka panjang. Karena itu kelompok ini mengimplementasikan teknologi manajemen lahan gambut yang tepat agar pengelolaan hutan bisa berkelanjutan,” kata  Imam di Berita Satu.

Dalam pelaksanaan SFMP 2.0, APRIL Asia mendapat arahan dari  komite penasihat parapihak (Stakeholder Advisory Commitee/SAC). Mereka terdiri dari  yang terdiri dari Joe Lawson yang bertindak sebagai Chairman, Jeff Sayer (James Cook University), Al Azhar (Lembaga Adat Melayu Riau), Erna Witoelar (KEHATI), Neil Bryon (Institute of Foresters Australia). Mereka semua memantau pelaksanaan kebijakan terbaru APRIL agar berjalan sesuai rencana.

 Fakta di lapangan memang seperti itu. Berdasarkan laporan KPMG Performance Registrar Inc. yang melakukan penelitian penerapan SFMP 2.0 di tubuh APRIL Asia selama Juni 2015 hingga Juni 2016,  hasil positif diperoleh. KPMG melihat tidak ada Indikator Kinerja SFMP 2.0 yang belum dijalankan atau disusun oleh APRIL. Ini berarti mereka konsisten dalam implementasi kebijakan berkelanjutan dan antifdeforestasi.

Saat ini, penelitian serupa tentang implementasi SFMP 2.0 di tubuh APRIL Paper periode Januari hingga Desember 2017 tengah dilakukan. Laporan rencananya akan dipaparkan oleh KPMG pada 2018.

MEMBANGUN HUTAN TANAMAN INDUSTRI

Source: Inside RGE

Dalam membuat pulp dan kertas diperlukan bahan baku yang berasal dari kayu. Namun karena sudah menetapkan komitmen antideforestasi, APRIL Asia tidak pernah mengambil kayu dari hutan alam. Mereka memilih mengambil jalan berat yakni membangun hutan tanaman industri sendiri.

Hutan tersebut ditanami pohon akasia dan eukaliptus. APRIL perlu menunggu antara lima hingga enam tahun sebelum pohon dapat dipanen. Selama ini, mereka menyerahkan pengelolaan ke unit operasionalnya, PT Riau Andalan Pulp & Paper (RAPP).

Saat mengelola perkebunan, RAPP menjalin kerja sama dengan 40 mitra pemasok jangka panjang dalam pelaksanannya. Bersama dengan mereka, RAPP menjalankan pengelolaan perkebunan seluas 476 ribu hektare. Dari sinilah sumber bahan baku utama produksi APRIL berasal.

Berkat pengelolaan perkebunan tersebut, 79 persen kebutuhan fiber sudah terpenuhi. Adapun sisa keperluan fiber didapat dari para mitra pemasok jangka pendek. Mereka berasal dari berbagai kawasan lain Sumatera, Kalimantan, bahkan ada yang dari Malaysia.

Karena menjalankan SFMP 2.0, standar keberlanjutan juga diberlakukan kepada para mitra pemasok baik jangka pendek atau jangka panjang. Kayu yang dihasilkan mesti berasal dari praktik yang bertanggung jawab. Mereka tidak boleh berasal dari hutan alam atau berasal dari penebangan ilegal. Ketika dari hutan tanaman pun APRIL mengharuskan lahan tidak dibuka dengan cara membakar.

Untuk memastikan pengelolaan hutan tanaman industri berjalan dengan baik, pembibitan menjadi faktor penting. APRIL Indonesia memiliki nursery yang sanggup memenuhi kebutuhan hutan tanaman industrinya. Maklum saja, mereka memiliki target tahunan untuk menanam pohon hingga 150 juta.

Beragam upaya itu membuat APRIL Asia mampu menjaga suplai bahan bakunya dengan konsisten. Mereka tak perlu lagi mendapatkan kayu dari hutan alam. Pasokan dari hutannya sendiri sudah mencukupi.

APRIL malah semakin gencar untuk melakukan proses konservasi. Mereka sampai merilis kebijakan 1 Banding 1. Ini merupakan tekad dari perusahaan yang berdiri sejak 1993 tersebut untuk melindungi alam.

Pada intinya kebijakan 1 Banding 1 berisi niat untuk menjalankan perlindungan hutan dengan serius. APRIL Paper bertekad melakukan perlindungan sebanding lahan yang digunakan untuk produksi. Sebagai contoh nyata setiap satu hektare lahan yang dipakai bakal mendapat kompensasi satu hektare lain yang dilindungi.

Pelaksanaannya dari hari ke hari berjalan baik. Saat ini, RAPP dan mitra pemasok jangka panjang sudah berhasil melakukan perlindungan ke lahan seluas 419 ribu hektare. Hal ini semakin mendekati realisasi dari target program 1 Banding 1 yang dicanangkan.

Tidak aneh, langkah tersebut diyakini menjadi terobosan penting. “Saya rasa belum ada perusahaan di dunia yang berani menerapkan komitmen satu banding satu ini, ini baru APRIL,” papar Wenas di Go Riau.

Tidak mengherankan jika APRIL Indonesia mendapat apreasi dari berbagai pihak terkait kebijakan antideforestasi. Bagi sebuah perusahaan pulp and paper seperti mereka, menjalankan langkah moratorium pembukaan lahan dan hutan seperti tidak mudah. Namun, demi perlindungan alam, APRIL rela melakukannya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *